ASAL-USUL PUTRI DUYUNG
Kisah
Cerita tentang putri duyung pertama kali ditemukan di Asiria. Cerita itu berkisah tentang Dewi Atargatis, ibu dari ratu Asiria, Semiramis. Dewi Atargatis jatuh hati pada seorang gembala, kemudian terbunuh olehnya. Menahan malu, ia menceburkan diri ke danau dan berubah menjadi ikan. Namun, air tidak bisa mengubah dirinya sepenuhnya karena kecantikannya sebagai seorang dewi. Akhirnya, hanya separuh tubuhnya yang menjadi ikan—dari pinggang ke atas berwujud manusia, dari pinggang ke bawah berwujud ikan—meskipun dalam penggambaran pada zaman dahulu, Atargatis dilukiskan sebagai ikan berkepala dan bertangan manusia, mirip seperti Dewa Ea dari Babilonia. Bangsa Yunani mengenali Atargatis sebagai Derketo.
Legenda Yunani mengisahkan bahwa adik Aleksander Agung, Thessalonike, berubah menjadi putri duyung setelah kematiannya,[1] dan bergentayangan di Laut Aegea. Ia akan selalu mengajukan satu pertanyaan kepada pelaut pada setiap kapal yang dijumpainya: "Apakah Aleksander masih hidup?", dan jawaban yang tepat adalah: "Ia masih hidup dan berkuasa dan menaklukkan dunia. Jawaban tersebut akan membuatnya senang, sehingga ia akan membuat perairan menjadi tenang dan menyelemati kapal yang melintas. Jawaban lain akan membuatnya marah, sehingga ia akan mendatangkan badai dan melaknat kapal beserta pelaut di dalamnya.
Dalam berbagai negara
Beberapa makhluk legendaris yang karakternya mirip putri duyung juga ditemukan di beberapa negara, seperti: Mami Wata dari Afrika barat dan tengah; Russalki (Rusalka) dari Rusia dan Ukraina; Merrow dari Irlandia dan Skotlandia; Oceanid, Nereid, dan Naiad dari Yunani, keempatnya adalah Nymph air. Cerita rakyat Eropa juga mengenal makhluk yang wujudnya menyerupai putri duyung disebut Melusine, berwujud wanita dari kepala sampai pinggang, sedangkan berwujud ikan dari pinggang ke bawah, dengan dua ekor yang bercabang atau kadang-kadang seperti ular. Menurut cerita rakyat Jepang, jika manusia memakan daging putri duyung, maka akan memperoleh keabadian. Dalam beberapa cerita rakyat di Eropa, putri duyung dapat mengabulkan permohonan.
Dalam dunia hiburan
Putri duyung merupakan makhluk dalam kisah-kisah zaman dulu yang kini sangat terkenal karena dimunculkan kembali melalui imajinasi-imajinasi baru dan beberapa cerita meminjam karakter putri duyung sebagai makhluk asing yang menawan.
Dalam novel
Putri duyung juga dikenal sebagai karakter dalam dongeng The Little Mermaid (1836) karya Hans Christian Andersen yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa.
Putri duyung muncul dalam novel Peter Pan dan Harry Potter sebagai makhluk yang bukan berasal dari alam manusia.
Aquamarine, novel karya Alice Hoffman, menceritakan tentang sepasang gadis yang menemukan putri duyung di kolam renang. Kisah ini difilmkan oleh Twentieth Century Fox pada tahun 2006, dibintangi oleh Sara Paxton, Emma Roberts dan JoJo.
Dalam film
Splash (1984), dibintangi Daryl Hannah dan Tom Hanks. Hannah berperan sebagai Madison, si putri duyung yang jatuh cinta kepada manusia. Ia dapat memiliki kaki dan berjalan di darat, namun kapanpun air menyentuh tubuhnya, ia berubah menjadi putri duyung.
The Little Mermaid (1989) oleh Walt Disney studio, mengadaptasi cerita Hans Christian Andersen tentang putri duyung yang menginginkan sepasang kaki. Film ini dibuat sekuelnya dengan judul ‘’’The Little Mermaid 2: Return to the sea’’’.
She Creature (2001), berkisah tentang penculikan terhadap putri duyung, yang mana pada akhirnya makhluk tersebut berubah menjadi monster ganas di sebuah kapal dan membunuh para lelaki.
Aquamarine (2006), berkisah tentang dua gadis yang menemukan putri duyung yang bernama Aquamarine. Akhirnya mereka bersahabat dan putri duyung tersebut menemukan cintanya.
Kesenian
Salah satu lukisan putri duyung yang sangat terkenal adalah lukisan "A Mermaid" karya John William Waterhouse, dilukis dari tahun 1895. Lukisan tersebut sempat hilang dan ditemukan kembali pada tahun 1970-an.
Putri duyung juga biasa untuk dijadikan sebagai sebuah lambang. Putri duyung yang membawa perisai dan pedang menjadi lambang Warsawa, ibu kota Polandia. Patungnya terdapat di sana pula.
2.PERBEDAAN DUYUNG DAN DUGONG
Duyung atau dugong (Dugong dugon) adalah sejenis mamalia laut yang merupakan salah satu anggota Sirenia atau sapi laut yang masih bertahan hidup selain manatee dan mampu mencapai usia 22 sampai 25 tahun. Duyung bukanlah ikan karena menyusui anaknya dan masih merupakan kerabat evolusi dari gajah. Ia merupakan satu-satunya hewan yang mewakili suku Dugongidae. Selain itu, ia juga merupakan satu-satunya lembu laut yang bisa ditemukan di kawasan perairan sekurang-kurangnya di 37 negara di wilayah Indo-Pasifik, walaupun kebanyakan duyung tinggal di kawasan timur Indonesia dan perairan utara Australia.
Makanan
Duyung atau dugong adalah satu-satunya mamalia laut herbivora atau maun (pemakan dedaunan), dan semua spesies sapi laut hidup pada perairan segar dengan suhu air tertentu.
Duyung sangat bergantung kepada rumput laut sebagai sumber makanan, sehingga penyebaran hewan ini terbatas pada kawasan pantai tempat ia dilahirkan. Hewan ini membutuhkan kawasan jelajah yang luas, perairan dangkal serta tenang, seperti di kawasan teluk dan hutan bakau. Moncong hewan ini menghadap ke bawah agar dapat menjamah rumput laut yang tumbuh di dasar perairan.
Etimologi dan taksonomi
Duyung semula diklasifikasikan oleh Müller pada tahun 1776 sebagai Trichechus dugons, salah satu ahli genus manatee yang sebelumnya didefinisikan sebagai Linnaeus. Ia kemudian ditetapkan sebagai jenis spesis Dugong oleh Lacépède dan diklasifikasikan lebih lanjut di dalam keluarganya sendiri oleh Gray dan subfamilinya oleh Simpson.
Ernst Christoph Barchewitz mengunakan istiliah „dugung“ dan „manate“ ketika ia tinggal dipulau Leti 1714-1720. Perkataan "dugong" dalam bahasa Inggris dan bahasa-bahasa lain, berasal dari istilah dalam bahasa Melayu yakni duyung, kedua-duanya memiliki makna yakni "perempuan laut." Nama-nama lain termasuklah "lembu laut", "babi laut" dan "unta laut."
Konservasi
Duyung menjadi hewan buruan selama beribu-ribu tahun karena daging dan minyaknya. Kawasan penyebaran duyung semakin berkurangan, dan populasinya semakin menghampiri kepunahan. IUCN mengklasifikasikan duyung sebagai spesies hewan yang terancam, manakala CITES melarang atau mengharamkan perdagangan barang-barang produksi yang dihasilkan dari hewan ini. Walaupun spesies ini dilindungi di beberapa negara, penyebab utama penurunan populasinya di antaranya ialah karena pembukaan lahan baru, perburuan, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam menangkap ikan. Duyung bisa mencapai usia hingga 70 tahun atau lebih, serta dengan angka kelahiran yang rendah yang mengancam menurunnya populasi duyung. Duyung juga terancam punah akibat badai, parasit, serta hewan pemangsa seperti ikan hiu, paus pembunuh dan buaya.
Duyung dilindungi dalam tiga cakupan konvensi konservasi internasional:
1. Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati (CBD)
2. Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Langka Fauna dan Flora Liar (CITES)
3. Konvensi tentang Spesies Migrat Spesies Hewan Liar (juga dikenal sebagai CMS atau Konvensi Bonn).[15]
Ancaman
Ancaman terhadap duyung bervariasi antara populasi yang berbeda seperti yang dirinci dalam Marsh et al. (2011) dan Hines dkk. (2012). Ancaman utama meliputi:
- Penangkapan yang tidak disengaja pada alat tangkap (misalnya jaring insang), jaring ikan hiu untuk perlindungan bather, penangkapan IUU terutama jika daging dijual kemudian untuk pengkajian cepat terperinci berdasarkan kuesioner untuk memberikan informasi tentang hotpots konservasi untuk duyung di 18 negara di empat wilayah geografis: Pasifik, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Afrika Timur, dengan 6.153 responden)
- Berburu: legal (yaitu sanksi budaya) dan ilegal
- Perahu pemogokan dan aktivitas berperahu (mis., Polusi akustik)
- Kerusakan / modifikasi / hilangnya habitat yang disebabkan oleh pemukiman manusia di pesisir pantai, pelayaran, perikanan penghancur trawl, proses alami (misalnya siklon dan tsunami)
- Ancaman terhadap padang lamun (termasuk pembuangan limbah yang tidak diobati, pengerukan dan reklamasi pesisir, trawl darat komersial, polusi pertanian)
- Polusi kimia (misalnya tumpahan minyak dan muatan logam berat)
- Perubahan iklim (kejadian cuaca ekstrem dan suhu tinggi).
Habitat
Habitat untuk duyung meliputi daerah pesisir, dangkal sampai sedang dalam, perairan hangat (minimum 15-17 °C dengan termoregulasi perilaku), padang lamun yang mendukung spesies lamun tropis dan tropis, terutama spesies serat rendah. Duyung menunjukkan variabilitas yang besar dalam pola pergerakan dan migrasi, tergantung pada wilayah dan pengaruh suhu musiman atau curah hujan pada ekosistem.
Populasi
Lima negara / wilayah (Australia, Bahrain, Papua Nugini, Qatar dan Uni Emirat Arab) mendukung subpopulasi besar duyung (ribuan) dengan puluhan ribu duyung di Australia utara / Papua Nugini saja. Persentase individu dewasa cenderung bervariasi antara berbagai subpopulasi, namun kemungkinan berada di antara 45% dan 70%. Informasi genetik tentang populasi duyung sebagian besar terbatas pada wilayah Australia. IUCN mencatat bahwa populasi duyung mulai menurun dan statusnya menjadi rentan pada tahun 2008.
